Echinacea : Si Cantik Penjaga Kesehatan

Echinacea : Si Cantik Penjaga Kesehatan Pernahkah Anda masuk ke ruangan yang berdebu lantas bersin-bersin ? Kondisi tersebut termasuk salah satu cara kerja sistem imun manusia agar debu yang terhirup dikeluarkan dari tubuh. Sistem Imun merupakan suatu jaringan kompleks yang terdiri dari organ, sel dan protein yang melindungi tubuh dari infeksi, benda asing dan melindungi sel tubuh itu sendiri. Sistem imun diketahui terdiri dari sistem imun bawaan dan sistem imun adaptif. Sistem imun bawaan melawan benda asing melalui respon cepat namun tidak memiliki memori jangka panjang ( Netea at. al., 2011). Sedangkan sistem imun adaptif bersifat spesifik-antigen, respon lebih lambat namun memiliki memori jangka panjang terhadap benda asing ( Pancer et. al., 2006). Pada tahun 2001, saat wabah Covid-19 melanda dunia, peningkatan sistem imun merupakan salah satu fokus yang digencarkan untuk mengatasi wabah tersebut. Karena secara alami, sistem imun dianggap mampu melawan virus Covid-19. Lantas, apakah langkah yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan imunitas ? 1. Berolahraga secara Teratur Rutin berolahraga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 kali seminggu dapat membuat tubuh kita semakin sehat. Peneliti menemukan bahwa melakukan aerobik pada kecepatan sedang dapat meningkatkan pembentukan dan sirkulasi sel defensif pada sistem imun (Nieman dan Wentz, 2019). 2. Mengkonsumsi Makanan Bergizi Sistem imun membutuhkan energi untuk bekerja. Mikronutrien dan komponen zat gizi masing-masing memiliki peran yang berbeda dalam meregulasi sistem imun, missalnya : Asam Amino Arginin penting untuk menghasilkan Nitrat Oksida oleh Makrofag ; mikronutrien Vitamin A dan Zink meregulasi pembelahan sel dan mekanisme proliferatif oleh sistem imun ( Childs et. al., 2019) . 3. Menerapkan Cukup Istirahat Menurut penelitian yang dilakukan oleh Besedovsky et. al., 2012, tidur malam dan secara khusus tidur gelombang lambat saat awal malam dapat mempromosikan pelepasan hormon pertumbuhan (Growth Hormone) dan prolaktin, dimana aksi anti-inflamasi dari kortisol dan katekolamin berada pada tingkat terendah. Sehingga jumlah waktu istirahat harus mencukupi agar sistem imun tetap berada dalam kondisi baik dan dapat ditingkatkan. 4. Mengelola Stress dengan Baik Stres merupakan salah satu sumber penyakit. Stres yang dibiarkan bisa menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis yang dapat melemahkan sistem imunitas tubuh seseorang. Berdasarkan ulasan dari American Physicological Association, kondisi stres dapat menurunkan jumlah set pembunuh alami (Natural Killer) atau limfosit pada tubuh, dimana keduanya dibutuhkan untuk melawan virus. Oleh karena itu, pengelolaan tingkat stres dengan mengetahui hal-hal atau tindakan apa yang dapat membuat suasana hati menjadi positif menjadi satu hal penting untuk meningkatkan sistem imun. 5. Menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan Risiko penularan penyakit dari orang lain, baik melalui kontak langsung atau secara tidak langsung, dapat berkurang dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Paparan terhadap mikroorganisme di lingkungan tempat tinggal ikut membentuk pola perkembangan respons imun. Namun kondisi higiene yang berlebihan juga diyakini dapat melemahkan sistem imun. Menurut IFH Gudeline dalam Bloomfield et. al., 2006 yang dibutuhkan untuk dicari adalah keseimbangan sanitasi dan kebersihan diri sehingga menciptakan sistem imunitas yang optimal. Jadi yang dibutuhkan bukan eradikasi namun membatasi jumlah paparan mikroba berbahaya yang mungkin menimbulkan resiko kesehatan. 6. Mengkonsumsi Suplemen Kesehatan Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan imunitas adalah mengkonsumsi vitamin, mineral, antioksidan, imunostimulan, imunomodulator, serta bahan lain yang dapat mendukung peningkatan sistem imun. Salah satu bahan yang dapat digunakan adalah bahan tradisional misalnya Sambiloto, Echinacea, Bawang Putih, Ginseng dan Elderberry. Berikut akan kita bahas lebih jauh terkait dengan Echinacea sebagai salah satu bahan alam yang dapat membantu menjaga serta memodulasi sistem imun. Echinacea mengandung terpen volatil. Polisakarida, poliaktilen, alkamida, komponen fenolik, ester asam kafein dan glikoprotein. Komposisi masing-masing komponen pada genus echinacea yang berbeda berada dalam persentasi yang berbeda pula (Gurley et. Al, 2012) Echinacea memiliki aktivitas antibakteri, stimulasi monosit dan sel pembunuh alami serta menghambat perlekatan virus pada sel inang. Selain itu, echinacea dapat mengurangi inflamasi melalui penghambatan sitokin inflamasi. Berdasarkan hasil uji klinik, diketahui bahwa Echinacea dapat secara ringan mengurangi resiko terjadinya selesma namun tidak dapat memperpendek durasi atau keparahan penyakit. Uji klinik yang dilakukan oleh Jawad et. al., 2012 terhadap 755 subyek uji yang mengkonsumsi Ekstrak Echinacea purpurea dan plasebo menunjukkan bahwa subyek yang mengkonsumsi ekstrak terserang selesma dengan gejala yang lebih ringan dan durasi yang lebih pendek daripada subyek yang mengkonsumsi plasebo. Sembilan uji klinis telah dilakukan pada Ekstrak Echinacea ( 8 uji untuk dewasa dan 1 uji pada anak), menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan plasebo, echinacea dapat menurunkan resiko terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) sebesar 22% namun tidak mempengaruhi durasi infeksi yang terjadi ( Jawad et. al., 2012 dan Barrett et. al., 2010). Hal ini sejalan dengan ulasan yang dilakukan oleh Karsch Volk et. al., 2014, terhadap 24 hasil uji klinik dengan total 4.631 partisipan bahwa echinacea dapat menurunkan resiko selesma sebesar 10-20% namun tidak mengobati penyakitnya. Selain pada selesma (common cold), uji klinik yang dilakukan oleh Raus K et. al., 2015 , kepada 473 subyek uji klinik pria dan wanita yang berusia 12 – 70 tahun dengan gejala influenza sampai dengan 48 jam. Diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan pada respon yang ditimbulkan oleh Echinacea purpurea dan oseltamivir. Selain itu, pemberian ekstrak echinacea mengalami efek samping yang lebih sedikit, utamanya untuk mual dan muntah. Echinacea termasuk ke dalam kategori aman untuk dikonsumsi. Efek samping yang mungkin timbul, antara lain gangguan saluran cerna, seperti diare, kesulitan tidur, dan kulit kemerahan (Crawford et. al., 2022 ; National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, 2012 ; Jawad et. al., 2012). Selain itu, terdapat kasus yang jarang terjadi bahwa echinacea dapat menyebabkan reaksi alergi ( National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, 2012). Echinacea juga diketahui dapat meningkatkan aktifitas sitokrom P450, sehingga dapat menurunkan jumlah obat yang dimetabolisme oleh enzim ini (Penzak et. al., 2010). Selain itu, echinacea juga dapat menurunkan efektifitas imunosupresan sehubungan dengan aktifitas imunostimulannya yang potensial (Natural Medicines Comprehensive Database, 2021). Oleh karena itu, penggunaan echinacea pada penderita penyakit autoimun perlu perhatian secara khusus. Selama ini, sebagian besar sumber penyedia Ekstrak Echinacea berasal dari luar Indonesia, sehingga bagi Industri OTSK yang membutuhkan persentase nilai TKDN tinggi kemungkinan akan menjadi masalah. Kami, Solonat menyediakan Ekstrak Echinacea lokal dengan kualitas yang setara dengan Ekstrak Echinacea impor. Bagi Industri OTSK yang membutuhkan source lokal kami sangat terbuka untuk berdiskusi dan berkonsultasi terkait pengembangan produknya.

Author: Administrator

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

2 Comments

  1. User says Jul 21, 2021 at 10:00am

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

  2. User says Jul 21, 2021 at 10:00am

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Leave a reply